Penghapusan Degradasi Tak Sesuai Prinsip Sporting Merit and Integrity

oleh -40 views


tribunpagi.com-Wacana soal penghapusan degradasi untuk Liga 1 musim ini ramai menjadi pembicaraan luas kemarin. Rencana itu keluar dari hasil rapat Exco PSSI pada 3 Mei lalu.

Wacana tanpa degradasi itu, kali pertama dikatakan salah seorang anggota Exco PSSI Hasani Abdulghani. Dia mengatakan bahwa mayoritas klub peserta Liga 1 menginginkan musim ini tidak ada tim yang turun ke divisi kedua.

Alasannya adalah faktor ekonomi. Nah, berikut komentar para pelaku sepak bola Indonesia tentang wacana penghapusan degradasi tersebut.

1. Nabil Husein, presiden Borneo FC
’’Borneo FC ingin sepak bola yang jelas aturannya. Sebab, tanpa degradasi, satu kemunduran bagi sepak bola Indonesia. Di sepak bola profesional, selagi ada promosi, ya harus ada degradasi.’’

2. Sudarmaji, media officer Arema
’’Kami menunggu hasil kongres. Yang harus menjadi fokus adalah kompetisi digelar dalam kondisi darurat pandemi yang berdampak pada aktivitas sekaligus kelangsungan hidup klub. Maka, yang perlu dikaji adalah tentang kondisi tersebut.’’

3. Sulaiman Karim, media officer PSM
’’Mayoritas tim ini dalam kondisi lama tidak bertanding. Tim seperti membangun ulang kekuatan. Kualitas tim beda dengan kalau misalnya liga kemarin tidak dihentikan. Sistem penghapusan degradasi kan juga hampir diterapkan di Liga 1 2020.’’

4. Abdul Hakim Bafagih, presiden Persik
’’Persik Kediri mendukung wacana liga tanpa degradasi. Itu menjadi momen untuk pemulihan seluruh klub di Liga 1. Kita tidak bisa memaksakan format normal di tengah kondisi yang tidak normal. Karenanya, itu merupakan langkah yang baik sekali.’’

5. Rahmad Darmawan, manajer-pelatih Madura United
’’Jika Liga 1 dijalankan normal dan tim bisa bermain di markas masing-masing, harus ada degradasi yang diterapkan. Tapi, kalau kompetisi dipusatkan di Jawa, degradasi harus ditiadakan. Sebab, klub luar Jawa yang paling dirugikan jika tetap ada degradasi. Padahal, mereka memainkan 34 laga di luar kandang.’’

6. Mundari Karya, manajer Barito Putera
’’Kalau saya setuju karena memang kondisi sepak bola Indonesia belum normal seutuhnya. Kalau bicara tidak seru, saya rasa tidak. Klub-klub pasti tetap akan bersaing, sikap kompetitif tetap ada. Piala Menpora bisa jadi contoh bagaimana tiap pertandingannya cukup seru.’’

7. Ardhi Tjahkoko, pembina Persija
’’Bagi saya seandainya liga jadi digulirkan tetapi tidak ada sistem degradasi, itu tak ubahnya seperti turnamen saja. Mengingat tidak ada lagi nilai kompetisinya di samping tentunya dari Liga 2 kan juga ingin berkompetisi supaya bisa masuk ke Liga 1. Jadi, saya rasa perlu dipertimbangkan kembali. Supaya liga dapat kembali kepada marwahnya dan masing-masing klub akan berkompetisi dengan penuh semangat serta mempunyai target.’’

8. Aji Santoso, pelatih Persebaya
’’Wes aku melok ae apa yang menjadi keputusan, walaupun cukup disayangkan kalau tidak ada degradasi.’’

9. Wahyoe ’’Liluk’’ Winarto, general manager PSIS
’’Wacana Liga 1 tanpa degradasi ini kan bukan hal yang baru. Musim lalu, sebelum Liga 1 akhirnya dihentikan, wacana ini kan juga ada. Sebagian besar klub setuju mengingat kondisi pandemi yang tidak ideal untuk kompetisi secara normal. Kalau kami dari PSIS, ikut suara terbanyak saja. Kalau memang ingin tanpa degradasi, ya kami setuju.’’

10. Stefano Cugurra Teco, pelatih Bali United
’’Tidak bagus liga tanpa degradasi. Saya pikir klub dari Liga 2 juga mau perwakilannya naik ke Liga 1.’’

11. Rahmat Djailani, sekertaris Persiraja
’’Setuju Liga 1 tanpa degradasi. Kondisi belum normal, klub kewalahan, sponsor juga tidak ada. Toh, walau tanpa degradasi, kami tetap akan main habis-habisan dan akan memaksimalkan pemain muda.’’

12. Teddy Tjahjono, direktur PT Persib Bandung Bermartabat (PBB)
’’Kami sangat menolak kompetisi Liga 1 tanpa degradasi. Prinsip dasar dari kompetisi, yaitu sporting merit and integrity, harus dijalankan. Statuta FIFA dan AFC mengatur dengan sangat jelas mengenai sporting merit and integrity. Saya tidak ingin berkomentar mengenai klub lain. Tapi, PSSI atau LIB harus menegakkan prinsip dasar kompetisi. Yaitu, sporting merit and integrity. Sporting merit and integrity diatur jelas kok di FIFA dan AFC.’’



Source link