Pakaian Tertutup Bisa Kurangi Paparan Vitamin D, Ini Dampaknya

oleh -32 views


tribunpagi.com – Di masa pandemi Covid-19, kesadaran akan kebutuhan vitamin D sedang meningkat di masyarakat. Faktanya angka mortalitas pada orang yang terinfeksi Covid-19 lebih tinggi pada orang yang kekurangan vitamin D. Karena itu tren berjemur mulai ramai saat pandemi untuk meningkatkan imun tubuh.

Vitamin yang bisa didapatkan melalui paparan sinar matahari ini, juga terbukti berperan penting dalam penyerapan kalsium tulang. Dan dapat mengurangi resiko infeksi saluran pernapasan dan menjaga sistem imun tubuh.

Indonesia sebagai negara tropis, pada kenyataannya, mempunyai tingkat prevalensi defisiensi vitamin D yang cukup tinggi. Sebuah data dari SEANUTS 2011-2012 mengatakan jika terjadi defisiensi vitamin D yang cukup tinggi, dimana 38,76 persen terjadi pada anak Indonesia yang berusia 2-12 tahun, sekitar 61,25 persen terjadi pada ibu hamil, 63 persen terjadi pada perempuan dewasa yang berusia 18-40 tahun, dan 78,2 persen pada usia lanjut.

Baca Juga: Tetap Aman Nikmati Sinar Matahari, Cek Level UV sebelum Berjemur

Dalam webinar bersama Holisticare, seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD, CHt menjelaskan, terjadinya defisiensi vitamin D dalam tubuh disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, proses pembentukan vitamin D itu sendiri, seperti kondisi usia yang semakin tua yang dapat menyebabkan pembentukan vitaminnya berkurang, warna kulit yang semakin gelap yang membutuhkan semakin lama waktu berjemur, sedikitnya permukaan kulit yang terpapar saat berjemur dan berat badan. Kedua, hanya terdapat beberapa makanan yang mempunyai kandungan vitamin D, seperti jamur, kuning telur dan ikan berlemak.

Data Holisticare, vitamin D terbentuk secara alami ketika kulit terkena sinar matahari langsung. Maka dari itu, semakin tertutup orang berpakaian, semakin sedikit penyerapannya. Jika hanya bagian kulit muka dan dan tangan yang terpapar sinar, maka orang tersebut hanya mendapatkan vitamin D sekitar 10 persen. Bagi orang yang mengenakan kaos dan celana panjang, penyerapan vitamin D-nya hanya sekitar 16 persen.

Bagi orang yang mengenakan celana pendek saja ketika di pantai, penyerapan vitamin D-nya dapat mencapai 76 persen. Sehingga, tak diherankan, jika defisiensi vitamin D sesuatu yang sulit dihindarkan di Indonesia.

Lalu apa dampaknya?

Kekurangan vitamin D, selain dapat mudah terinfeksi virus, juga dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker, diabetes, serta depresi. Maka dari itu, untuk menjauhkan bahaya dari virus dan agar organ tubuh tidak mengalami masalah, diharapkan masyarakat dapat mencukupi kebutuhan vitamin D melalui suplemen pendamping.

“Namun, untuk mengetahui lebih pasti berapa kebutuhan vitamin D yang wajib dikonsumsi, disarankan agar masyarakat mendiskusikan kepada dokter yang bersangkutan,” tambah Dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD, CHt.

Chief Strategy Officer, Konimex Group, Edward Joesoef mengatakan, kebutuhan vitamin D sudah mulai disadari masyarakat. Pihaknya ingin menjadi bagian untuk membantu pemerintah meningkatkan kesehatan masyarakat, baik dalam menekan jumlah kasus Covid-19 yang terus bertambah maupun tingkat mortalitasnya, membantu masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup sehari-hari dan menjadi pendamping yang tepat dalam menjalani aktivitas.

“Sebuah suplemen yang tidak hanya membawa kebaikan untuk tubuh, namun memberikan cara praktis untuk dapatkan banyak manfaat,” kata Edward Joesoef

“Vitamin D tidak hanya memainkan peranan penting dalam menghadapi virus Covid-19, namun menjadi salah satu instrumen asupan nutrisi penting untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara umum sehingga produktivitas masyarakat juga meningkat dan siap menghadapi tantangan,” tutup Edward Joesoef.



Source link