Green Surfactant Mulai Digunakan KSO Pertamina EP-Samudra Energy BWP

oleh -14 views


tribunpagi.com – Indonesia resmi punya Surfactant produksi dalam negeri yang diproduksi oleh Petrokimia Gresik. Surfactant yang digarap bareng Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) Institut Pertanian Bogor (IPB) itu merupakan satu-satunya produk dalam negeri. Pengguna perdana dari Green Surfactant sebanyak 7.000 liter itu adalah KSO Pertamina EP-Samudra Energy BWP Meruap di Sarolangun, Provinsi Jambi.

Surfaktan itu digunakan dengan cara injeksi ke dalam bumi. Nantinya, minyak bumi yang masih menempel di bebatuan akan terlepas dan lebih mudah disedot dengan pompa. Muaranya, surfaktan mampu meningkatkan produktivitas sumur minyak bumi, bahkan mampu mengeluarkan minyak mentah dari lapangan atau sumur minyak tua yang sudah tidak berproduksi lagi.

Dirut Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo menjelaskan, Surfaktan merupakan molekul yang memiliki gugus hidrofilik (suka air) dan lipofilik (suka minyak atau lemak) sehingga dapat menyatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak. Selain digunakan untuk bidang farmasi dan industri pembersih seperti detergen, surfaktan juga digunakan untuk keperluan eksplorasi minyak bumi dengan metode Improved Oil Recovery (IOR) dan Enhanced Oil Recovery (EOR).

“Green Surfactant merupakan terobosan penting yang dapat mendukung industri minyak dan gas di tanah air agar semakin efisien dan ramah lingkungan,” ujar Dwi Satriyo.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pengeboran minyak suatu saat akan turun produktivitasnya meskipun cadangan yang ada di dalam sumur masih banyak. Ini terjadi karena minyak menempel pada bebatuan atau lainnya. ”Dengan menggunakan Green Surfactant, akan ada biliunan barel minyak yang awalnya ditinggal karena susah disedot sekarang bisa dioptamilasisasi,” ujarnya.

Green Surfactant akan menggantikan penggunaan surfaktan berbasis hydrocarbon yang umum digunakan industri migas di Indonesia. Surfaktan berbasis hydrocarbon harus diimpor dari luar negeri dengan harga yang lebih mahal dan fluktuatif karena dipengaruhi harga Crude Oil dunia.

“Oleh karena itu, Green Surfactant memiliki potensi pasar yang besar mengingat harganya lebih kompetitif dan lebih ramah lingkungan. Di sisi lain sumur migas di Indonesia juga sangat banyak,” ujar Dwi Satriyo,

Setelah pengiriman ke KSO Pertamina EP-Samudra Energy BWP Meruap, selanjutnya Petrokimia Gresik akan melakukan pengiriman Green Surfactant dengan volume 3.500 liter ke Sumur Kawengan Cepu, Provinsi Jawa Tengah.

Saat ini kapasitas produksi Green Surfactant Petrokimia Gresik mencapai 600 kiloliter per tahun. Melihat potensi pasar yang masih sangat terbuka lebar, Dwi Satriyo berharap ke depan produksi Green Surfactant dapat ditingkatkan tidak lagi sekadar mini plant, tetapi dalam skala yang lebih besar lagi.

Baca Juga: Bayar Rp 38 M, Dapat 21 Sertifikat Tanah Palsu dari Notaris Olivia

Dwi Satriyo menyatakan hadirnya produk Green Surfactant ini juga menjadi bentuk dukungan Petrokimia Gresik terhadap target produksi crude oil 1 juta barrel per hari yang dicanangkan oleh pemerintah melalui SKK Migas.

“Selain itu, kerja sama ini juga menjadi salah satu wujud dan peran bersama dalam membangun kemandirian bangsa serta dalam rangka mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan bahan penolong, salah satunya Surfaktan,” tandas Dwi Satriyo.

Saksikan video menarik berikut ini:



Source link