Dihujat, PM Morrison Melunak, Warga Australia di India Bisa Pulang

oleh -39 views


tribunpagi.com – Setelah rentetan hujatan, Australia akhirnya berubah pikiran. Jumat (7/5) Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison memutuskan bahwa larangan penerbangan dari India tidak akan diperpanjang. Larangan tersebut berakhir pada 15 Mei nanti. Setelahnya, proses repatriasi penduduk Australia di India akan dilakukan.

”Kemarin (Kamis, Red) Komite Keamanan Nasional bertemu dan setuju untuk tidak memperpanjangnya,” ujar Morrison seperti dikutip BBC. Menurut dia, kebijakan biosekuriti yang ditetapkan hingga 15 Mei tersebut efektif. Karena itu, kebijakan tersebut akan tetap dijalankan tanpa perubahan.

Pemerintah Australia akan menyediakan penerbangan khusus untuk memulangkan penduduknya dari India. Yang diutamakan adalah penduduk kategori rawan. Misalnya saja lansia dan mereka yang sakit. Dari sekitar 9 ribu penduduk yang terjebak di India, 900 orang masuk golongan rawan. Mereka akan diterbangkan lebih dulu.

Baca juga: Larangan Ekstrem Australia ke Warganya di India Disebut Berbau Rasisme

Semua pengaturan penerbangan dan kru berasal dari Australia. Sebelum terbang, tiap orang yang dipulangkan akan dites Covid-19 dulu. Saat tiba, mereka harus menjalani karantina lebih dulu selama 14 hari di Howard Springs, Northern Territory. Bakal disediakan sekitar 2 ribu tempat tidur di area tersebut untuk menampung mereka.

Pemerintah menawarkan pada negara bagian yang mau menerima penduduk yang direpatriasi. Tiga negara bagian mengulurkan tangan. Yaitu, New South Wales, Victoria, dan Queensland. Ketiga wilayah siap menyediakan semua kebutuhan karantina. Total akan ada enam penerbangan untuk memulangkan penduduk Australia dari India.

Meski pemerintah membuka jalur untuk repatriasi, tidak demikian halnya untuk penerbangan komersial. Semua penerbangan dari India masih ditutup total.

Pemerintah Australia sebelumnya dihujat gara-gara melarang semua penerbangan dari India. Kebijakan itu bahkan berlaku bagi penduduk yang ingin pulang. Jika melanggar, bisa didenda hingga ancaman 5 tahun penjara. Aturan ketat itulah yang disorot. Bahkan, isu rasisme muncul. Penduduk Australia berdarah India merasa mereka sebagai warga kelas dua. Legalitas kebijakan yang diambil pemerintahan Morrison itu digugat di pengadilan federal. Proses dengar pendapat akan dilakukan Senin (10/5).

Pelonggaran kebijakan yang dipaparkan Morrison kemarin tidak berlaku untuk anak-anak tanpa orang tua yang masih di India. Total ada 173 anak-anak Australia yang terjebak di India tanpa kedua orang tuanya. Mereka tinggal bersama dengan kakek nenek atau kerabat lainnya.

Pada banyak kasus, mereka datang ke India bersama kedua orang tuanya. Orang tuanya pulang ke Australia lebih dulu dan berencana menjemput mereka. Atau ada pula yang dijadwalkan balik ke Australia bersama kakek neneknya. Sayang, perbatasan internasional Australia keburu ditutup dan mereka tidak bisa kembali.

Berdasar aturan, anak-anak itu tidak bisa kembali ke Australia tanpa orang tuanya. Mereka tidak masuk dalam rombongan repatriasi. Orang tuanya serbasalah karena mereka pun tidak bisa terbang ke India untuk menjemput.

Senator Kristina Keneally dari Partai Buruh menekan pemerintah agar mengirimkan penerbangan khusus untuk anak-anak tersebut. Namun, perwakilan Departemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Lynette Wood hanya menyatakan mereka akan memulangkan penduduk semaksimal mungkin tanpa memastikan nasib anak-anak tersebut.

Salah satu dari anak-anak yang terpisah itu adalah Ziva Narang. Dia masih berusia 19 bulan. Narang terpisah dari ibunya, Muneet, lebih dari setahun. Rencananya, Narang kembali bersama neneknya, tapi pintu perbatasan keburu ditutup.



Source link