Waspada Mutasi Ganda Virus Covid-19 dari India

oleh -20 views


tribunpagi.com – Salah satu penyebab lonjakan kasus Covid-19 di India adalah adanya strain baru hasil mutasi virus. Indonesia harus waspada. Sebab, beberapa mutasi virus ditengarai bisa memengaruhi efikasi vaksin, bahkan lolos dari tes PCR.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan mantan Direktur Penyakit Menular WHO Prof Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan, ada laporan bahwa beberapa spesimen di India tidak terdeteksi tes molekuler PCR.

“Tapi, baru berupa laporan awal. Masih ditunggu bukti ilmiahnya,” jelas Tjandra kepada Jawa Pos kemarin (27/4).

Kendati begitu, kata Tjandra, Indonesia wajib waspada karena varian-varian baru yang mengkhawatirkan atau variant of concern (VOC) baru terus bermunculan. Belajar dari kasus di India, selain berbagai variant of interest (VUI), ada tambahan ancaman berupa varian mutasi ganda atau double mutant yang berasal dari negeri tersebut. Bahkan, Tjandra menyebutkan, sudah ada laporan kemunculan triple mutant dari Bengal di India Timur.

Tjandra menuturkan, sejak awal India memang sudah melaporkan adanya jenis VOC yang tersebar luas di berbagai negara. Misalnya, varian B.1.1.7 yang kali pertama dideteksi di Inggris pada 20 September 2020 dan kini sudah ada di 130 negara di dunia, termasuk Indonesia. Kemudian, varian B.1.351 yang dilaporkan di Afrika Selatan pada awal Agustus 2020 dan sekarang sudah ada di lebih dari 80 negara.

’’Varian ini dilaporkan mungkin memengaruhi efikasi vaksin, termasuk AstraZeneca yang digunakan di Indonesia,” jelas Tjandra.

Lalu, varian P1 atau B.1.1.28.1 yang awalnya dilaporkan di Brasil dan Jepang juga masuk ke India. Varian itu sudah menyebar ke sekitar 50 negara di dunia. Tiga jenis VOC tersebut, lanjut Tjandra, bisa jadi merupakan salah satu penyebab kenaikan kasus di India.

Sementara itu, varian ganda atau double mutant yang dilaporkan dari India bernama varian B.1.617. Tjandra menyebutkan, saat ini varian itu sudah menyebar ke lebih dari 20 negara, termasuk ke Inggris. Lalu, para pakar melaporkan mutasi yang lebih baru, yakni B.1.618 yang disebut sebagai triple mutant. Strain virus itu mula-mula dilaporkan berasal dari daerah Bengal Barat sehingga disebut sebagai virus korona ’’Bengal strain”. Jenis itu, kata Tjandra, dilaporkan lebih mudah menular. ”Juga mungkin dapat memengaruhi efikasi vaksin walaupun memang penelitian masih terus berjalan untuk mendapatkan informasi yang lebih pasti,” katanya.

Tjandra menegaskan, bila ada pelawat dari luar negeri, sebaiknya mereka memang diperiksa ulang dengan tes PCR setiba di Indonesia. ”Kalau hasilnya negatif, tetap saja harus dikarantina sesuai masa inkubasinya. Dan kalau positif, harus ditangani, diisolasi, dan diperiksa whole genome sequencing-nya sehingga kita dapat mengantisipasi berbagai varian dan mutan baru Covid-19,” jelasnya.

Baca juga: Bahaya, Menkes Sebut Mutasi Covid-19 India Sudah Menular Secara Lokal

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, saat ini terdapat lima negara yang mencatatkan kasus aktif tertinggi di dunia. Yakni, Amerika Serikat sebanyak 6.812.645 kasus dengan klasifikasi jenis transmisi penularan besar di masyarakat.

Kemudian, India sebanyak 2.882.513 kasus dengan klasifikasi persebaran berupa kemunculan klaster-klaster kasus. Lalu, Brasil dengan 1.099.201 kasus, Prancis 995.421 kasus, serta Turki 506.899 kasus dengan klasifikasi penularan besar di masyarakat.

Meningkatnya kasus di seluruh dunia itu, menurut Wiku, merupakan ancaman. Globalisasi membuat negara-negara terhubung dan persebaran kasus tidak mengenal batas teritorial negara.

Saksikan video menarik berikut ini:

 



Source link