PGRI Sebut Nadiem Belum Maksimal, Kasihan dengan Presiden Jokowi

oleh -19 views


tribunpagi.com – Dunia pendidikan Indonesia masih terus dihiasi oleh polemik. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah hilangnya instrumen Pancasila dan Bahasa Indonesia di kurikulum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Sistem Pendidikan Nasional (PP SNP).

Untuk itu, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (Wasekjen PB PGRI) Dudung Abdul Qodir mengaku kasihan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sudah serius untuk membangun SDM Indonesia unggul, tapi tidak didukung oleh implementasinya.

“Pembantu presiden harusnya membantu menyelesaikan tugas presiden mewujudkan visi dan misi presiden, saya kasihan dengan Presiden Jokowi sudah sangat luar biasa ingin membangun sebuah sistem pendidikan dan menguatkan SDM,” ujar dia dalam diskusi daring Hilangnya Pancasila dan Bahasa Indonesia Dari Kurikulum, Minggu (25/4).

Ia menilai bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim masih belum maksimal dalam mengelola dunia pendidikan Indonesia dan berharap agar hal tersebut mulai digarap dengan serius.

“Saya melihat Mas Menteri belum ada kesungguhan dan keseriusan dalam membangun sistem pendidikan nasional yang lebih baik. Maaf ini saya harus sampaikan. Mas menteri saya mohon mendengar kami semua untuk bisa lebih baik pendidikan nasional kita,” ungkapnya.

Salah satu keseriusan yang dapat diwujudkan adalah pelibatan semua komponen dalam sistem pendidikan nasional. Menurutnya, Nadiem sebagai seorang pemimpin tidak boleh merasa hebat dengan jabatannya saat ini dan mulai berdiskusi dengan yang lainnya.

“Kita bergotong-royong dalam mengelola pendidikan nasional, hari ini mottonya adalah gotong-royong. Kemendikbud diharapkan tidak terus menerus melakukan kesalahan, kalau satu-dua kali kita maafkan, kalau 3 kita tidak maafkan,” tegasnya. (*)

 

Saksikan video menarik berikut ini:



Source link