Mural Menyangga Asa di Bawah Matahari yang Sama

oleh -29 views


Jika Anda sedang berada di Jakarta, cobalah mampir ke M Bloc Space, Kebayoran Baru. Mural bertema ’’Under the Same Sun” atau ’’Di Bawah Matahari yang Sama” sedang dipamerkan di sana. Karya ini merupakan hasil kolaborasi antara seniman Indonesia Stereoflow (Adi Dharma) dan seniman Singapura Zero (Zulkarnaen Othman).

’’UNDER The Same Sun” menjadi wujud kesatuan karya seni antara Indonesia dan Singapura. Sebagian mural ’’Under The Same Sun” dipamerkan di Jakarta, setengahnya lagi di Singapura, tepatnya di Kampong Gelam Bali Lane. Dua karya tersebut lantas disatukan secara digital agar dapat dinikmati secara utuh.

Untuk dapat melihat aktivasi digital mural tersebut, pengunjung dapat menggunakan fasilitas augmented reality (AR) demi mendapatkan pengalaman imajinatif yang lebih baik. Karya ’’Under The Same Sun” ini sendiri merupakan hasil dari kampanye bertajuk ’’SingapoReimagine”, sebuah kampanye promosi pariwisata Singapura.

Terpisah secara geografis, Stereoflow maupun Zero mengusung tema tentang bermimpi di bawah matahari yang sama. Zero menggambar bulatan kuning yang tampak seperti matahari. Menurut dia, pandemi sudah memengaruhi dunia dari berbagai sisi. Mulai kesehatan, ekonomi, hingga sosial. ’’Singapura dan Indonesia berada di bawah matahari yang sama. Tidak ada yang beda antara kemurungan, kesakitan, dan kecemasan yang kita alami,” katanya saat konferensi pers Kamis lalu (8/4).

Matahari menjadi simbol tentang harapan-harapan hidup di kemudian hari. Di bawah sinar matahari yang sama, penduduk Singapura, Indonesia, dan seluruh dunia menyimpan tujuan dan keinginan yang sama: kekuatan, ketabahan, dan kewarasan dalam menghadapi keadaan yang sulit.

Hingga akhirnya, kesulitan-kesulitan itu mampu membawa semua orang pada titik yang lebih baik. ’’Mudah-mudahan matahari ini menyinari harapan-harapan kita untuk bersatu, bersama-sama bertahan, hingga akhirnya kita semua bisa melewati kondisi ini,” imbuh Stereoflow.

Pada Maret lalu, dia dan Zero melakukan brainstorming tentang konsep hingga merancang desain untuk mural puzzle tersebut. Koordinasi dilakukan jarak jauh antar kedua negara. Stereoflow kemudian mengerjakan mural bagian Indonesia dalam waktu tiga hari, sementara Zero mengerjakan mural sisi Singapura selama tujuh hari. Kondisi cuaca yang berbeda di masing-masing negara turut memengaruhi waktu penyelesaian yang berbeda antar kedua seniman tersebut. Namun, secara total, ’’Under The Same Sun” dapat terselesaikan dalam kurun waktu sebulan.

Ikon gapura dan candi khas Indonesia serta Marina Bay dan Gardens by The Bay ditambahkan sebagai elemen utama untuk menggabungkan kedua sisi mural. Keduanya merupakan tetenger khas Indonesia dan Singapura.

Zero kemudian memberi ide untuk menambahkan elemen-elemen khasnya pada mural sisi Indonesia yang dibuat Stereoflow. Remix karya tersebut tak begitu sulit dilakukan. Sebab, Zero maupun Stereoflow telah saling mengenal sejak lama.

Chemistry antara keduanya membuat pengerjaan mural ’’Under The Same Sun” dapat terselesaikan dengan baik. ’’Kalau dilihat dari warnanya, tidak banyak perbedaan. Baik saya maupun Stereoflow banyak menggunakan warna yang bright. Yakni, pink dan blue,” jelas Zero.

Satu hal yang sedikit menantang, Zero memercayakan Stereoflow untuk melukis elemen-elemen khasnya yang bergaya realis. Padahal, Stereoflow sendiri sudah sangat lama tidak melukis dengan aliran itu, dan lebih condong ke gaya abstrak.

Namun, tantangan itu justru menjadi pengalaman menyenangkan dan berkesan bagi Stereoflow. Seniman yang karya-karyanya banyak dipengaruhi budaya hiphop itu seolah terpacu untuk melukis dengan gaya di luar zona nyamannya selama ini. Baik Stereoflow maupun Zero sama-sama mendapatkan pengalaman baru dari pengerjaan ’’Under The Same Sun”. Sebab, ini adalah kali pertama bagi mereka berdua untuk berkolaborasi dalam karya mural puzzle secara digital.

Seni mural sendiri telah banyak dikenal oleh wisatawan yang datang ke Singapura. Kawasan-kawasan wisata seperti Little India, Chinatown, dan Kampong Gelam menjadi kawasan wisata favorit yang turut memamerkan pengalaman berwisata sambil menikmati karya-karya seni.

Zero mengatakan, Singapura kian tumbuh dengan tempat-tempat subkultur baru. Hal ini membuat komunitas-komunitas mural dan grafiti semakin aktif berkarya di negeri jiran itu.



Source link