Gara-gara Sengketa Lahan, Nyawa Burhanudin Melayang Ditebas Lehernya

oleh -22 views


tribunpagi.com – Permasalahan rebutan lahan yang terjadi di RT 1, Kelurahan Handil Bakti, Kecamatan Palaran, pada Sabtu (10/4) lalu, mulai terungkap jelas. Peristiwa berdarah yang menewaskan Burhanudin dengan leher nyaris putus diungkapkan ke publik oleh Polresta Samarinda kemarin (14/4).

Pelaku pembunuhan yakni Ardianson Ruben Kunum, yang ditangkap Minggu (11/4) lalu. Ardianson diringkus polisi di kawasan Sempaja, Kecamatan Samarinda Utara. Pelaku adalah anggota Kelompok Tani (Poktan) Empang Jaya Swadiri. Di mana dirinya menjabat sebagai bidang legal dan hukum. Dari perkara itu, Ardianson merupakan pelaku tunggal yang menembak menggunakan senjata penabur, dan mengeksekusi Burhanuddin dengan senjata tajam jenis mandau.

“Jadi dia (korban) kena tembakan terlebih dulu baru dibunuh,” jelas Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman, dikutip dari Kaltim Pos (Jawa Pos Group). “Senjata rakitan ditemukan lebih kurang 15 meter dari rumah di Sambutan. Ditanam di bawah tanah, dan keterangan dari saksi senjata itu beli dari Malinau seharga Rp 5 juta,” sambungnya.

Terkait awal mula peristiwa berdarah itu, Arif menerangkan, permasalahan berangkat dari sengketa lahan antara Poktan Empang Jaya Swadiri dengan warga sekitar. Warga yang sejatinya memiliki sertifikat tanah diserobot lahannya. Permasalahan agraria itu sebenarnya telah lama terjadi. Tercatat saling klaim lahan seluas 2.500 hektare telah terjadi sejak 2004 silam. “Itu memang ada beberapa versi dari kelompok tani, dan kepunyaan dari masyarakat. Nanti didalami lagi,” jelasnya.

Terkait legalitas lahan, polisi akan mencari tahu yang dimiliki pengurus koptan. Sebab, Poktan Empang Jaya Swadiri telah berganti kepengurusan. Bahkan disinyalir tidak aktif sejak 2015 lalu.

“Dalam kepengurusan pertama memang sudah ada sertifikat hak miliknya. Tapi apakah itu diserobot atau tidak masih didalami,” tegasnya.

Meski telah menetapkan satu pelaku, Arif menegaskan akan mendalami ada tidaknya pelaku lain. Termasuk menyelidiki ada tidaknya mafia tanah di kawasan tersebut. “Yang lain tidak terbukti, dan hanya ikut-ikutan,” jelasnya.

Akibat perbuatannya, Ardianson disangkakan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, dengan ancaman 20 tahun penjara. Kendati telah terbukti menghabisi nyawa orang lain dengan sengaja, Ardianson menampik hal itu lantaran penyerobotan lahan yang dilakukan kelompok taninya. Dia menyebut nekat melakukan aksi pembunuhan itu karena motif dendam kepada Burhanuddin.

Baca juga: Diduga Korban Pembunuhan, Pria Tewas Bersimbah Darah

“Burhanuddin itu terus melakukan pembakaran dan intimidasi kepada warga. Saya warga Handil Bakti juga, dan punya tanah di situ. Kami bukan menyerobot,” ungkapnya. Jika Poktan Empang Jaya Swadiri sudah lama berdiri. Tepatnya sejak 1986 silam yang menjadi dalil kalau Poktan Empang Jaya Swadiri tak mungkin melakukan penyerobotan lahan seperti yang diungkapkan warga korban penyerangan. “Lihat faktanya aja nanti, karena saya melakukan itu pasti ada sebab. Penyesalan secara manusia pasti ada, tapi karena sudah terjadi ya harus dijalani. Biarlah hukum yang menilainya. Saya lakukan dengan keadaan terpaksa,” tambahnya.

Disinggung soal jual-beli lahan Poktan Empang Jaya Swadiri kepada masyarakat, Ardianson langsung membantah. Dirinya mengatakan jika Poktan tidak pernah melakukan jual beli lahan.

“Tidak benar, kami tidak pernah menjual tanah. Kami menggarap dan tidak pernah menyerobot. Warga yang mana. Yang menjual itu provokatornya, Ferry, Karyono, Karlin. Burhanuddin juga sudah berapa kali dilaporkan,” tutupnya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:



Source link