Dari Indonesia ”Tari Perut” Itu Berasal

oleh -26 views


”Coretan-coretan” etnografis –sebuah gaya penelitian yang dimaksudkan untuk memahami makna sosial dan aktivitas masyarakat secara apa adanya.

DARI mana ”tari perut” berasal? Bukan dari Mesir. Bukan pula dari negeri-negeri Arab lain. Tapi, dari Indonesia! Kok bisa? Hajriyanto Y. Thohari punya penjelasannya.

Di negeri-negeri Arab, termasuk Lebanon, tempat dia bertugas saat ini sebagai duta besar, tari yang di Barat lebih dikenal sebagai belly dance itu disebut sebagai raqs sharqi. Dalam sebutan itu, sama sekali tak ada kosakata yang bisa diartikan sebagai perut (bahasa Arab: buthun atau bathn).

Raqs sharqi, dalam bahasa Arab, berarti tarian dari Timur. The dance from the East. Timur yang dimaksud adalah Arab. Jadi, terjemahan bebas raqs sharqi adalah tari Arab. Yang asalnya dari Mesir.

Meskipun memperlihatkan dan menekankan gerakan pada bagian perut, raqs sharqi juga jauh dari konotasi atau kesan sensual. Sebab, penarinya bukan perempuan muda berwajah cantik memesona. Melainkan, biasanya, sudah beranjak tua dan biasa-biasa saja. Bahkan, sering kali sangat gemuk.

Tari ini pun, dalam sejarahnya, ditampilkan dalam upacara-upacara tertentu seperti pernikahan, ulang tahun, atau kelahiran bayi. Di mana, undangan laki-laki dan perempuan berada di tempat terpisah.

Lalu, mengapa orang Indonesia menyebutnya tari perut? Menurut Hajriyanto, itu adalah hasil imajinasi orang-orang Indonesia sendiri ketika melihatnya. Tapi, orang Indonesia tak sendirian. Sebab, meski menyebutnya belly dance, orang Inggris kadang-kadang juga menerjemahkannya sebagai abdominal dance. Yang berarti tari seputar perut.

Imajinasi yang tak sepenuhnya salah. Sebab, dalam industri pariwisata, raqs sharqi kini menjadi bagian dari paket untuk para turis. Pementasannya dilakukan di kapal-kapal pesiar, restoran, pub, kafe, dan tempat-tempat sejenis.

Itulah salah satu antropologi yang dikisahkan Hajriyanto dalam buku ini. Tepatnya dalam salah satu sub bagian berjudul ”Antropologi Tari Orang Arab: dari Raqs Sharqi sampai Tari Ardah” (halaman 49–56).

Ditulis di sela-sela kesibukannya sebagai duta besar luar biasa dan berkuasa penuh Republik Indonesia untuk Lebanon, buku ini mengasyikkan untuk dibaca. Sebagaimana judulnya, ini adalah kumpulan ”coretan-coretan” etnografis –sebuah gaya penelitian yang dimaksudkan untuk memahami makna sosial dan aktivitas masyarakat secara apa adanya.

Meski sebagian besar pernah dimuat di media-media milik Muhammadiyah –ormas tempat Hajriyanto banyak berkiprah– serta media-media lain, membaca catatan-catatan dalam buku ini terasa menyegarkan. Dengan gaya berkisah, pembaca serasa diajak jalan-jalan oleh penulisnya.

Banyak informasi tentang masyarakat Arab, khususnya Lebanon, yang ternyata berbeda dengan persepsi sebagian kita selama ini. Soal nama saja, misalnya. Abdullah, Nasrallah, Khairallah, atau Syamsuddin adalah nama-nama yang sulit dipastikan mewakili identitas kultural yang mana.

Sekalipun ada tokoh muslim yang begitu dikenal di dunia bernama Hassan Nasrallah (Sekjen Hizbullah), itu bukanlah nama yang identik dengan orang Islam. Sebab, mantan kardinal Lebanon pun bernama Nasrallah. Lengkapnya Nasrallah Sfeir.

Ya, dari Lebanon yang banyak digambarkan dalam buku ini, kita bisa melihat wajah Arab yang lain. Lebanon adalah negara Arab yang dikenal paling bebas dengan masyarakat yang plural. Saking pluralnya, sistem politiknya pun didasarkan atas kemajemukan itu. Confessionalism. Pembagian kekuasaan didasarkan pengakuan atas agama dan sekte yang ada.

Misalnya, presiden harus selalu dari Kristen Maronis, perdana menteri dari Islam Sunni, dan ketua parlemen menjadi jatah Islam Syiah. Ada pula sekte Druze yang mendapatkan porsi kekuasaan tertentu di pemerintahan dan parlemen (halaman 92).

Adapun kebebasan negara ini, antara lain, bisa dilihat dari jumlah artis, seniman, dan penyanyinya. Paling banyak di antara negara-negara Arab lainnya. Sebut saja beberapa nama yang mungkin pernah Anda dengar. Atau, bahkan menyukai lagu-lagunya.

Lalu, bagaimana Lebanon bisa seperti itu? Ini tak bisa dilepaskan dari pengaruh Prancis yang pernah 23 tahun menguasainya selepas Turki Usmani. Kebudayaan Prancis yang dikenal dengan semboyan liberte (kebebasan), egalite (persamaan), dan fraternite (persaudaraan) begitu membekas dalam kehidupan masyarakat Lebanon. Bukan hanya gaya hidup, tapi juga cara bersikap dan bertutur kata. Sampai kini, rakyat Lebanon rata-rata dapat berbahasa Prancis dengan baik, sebagaimana mereka bisa bertutur dalam bahasa Inggris dan Arab (halaman 40).

Beirut adalah pusat penerbitan buku atau kitab keislaman dari yang klasik sampai modern. Tradisi penerbitan buku paling tua di dunia Arab juga dimulai dari Lebanon. Banyak pameran buku kelas dunia digelar di sini. Tak heran, pada 2009 UNESCO menobatkan Beirut sebagai World Book Capital alias Ibu Kota Buku Dunia (halaman 125).

Berisi total 47 catatan yang terbagi dalam enam bagian, buku ini disertai foto di sejumlah halaman. Sayang, hanya sedikit. Akan terasa lebih hidup jika foto-foto disertakan di setiap judul yang dibuat.

Di beberapa bagian juga masih sering dijumpai typo tulisan. Inilah yang perlu dibenahi lagi kelak jika dicetak ulang.

Walau demikian, membaca lembar demi lembar buku ini serasa menyeruput secangkir kopi. Setiap lembarnya mengandung kenikmatan tersendiri. Yang membuat kita ingin menuntaskan semua. Lalu, pikiran menjadi terang karenanya. (*)


  • Judul buku: Anthropology of the Arabs, Coretan-Coretan Etnografis dari Beirut
  • Penulis: Hajriyanto Y. Thohari
  • Penerbit: Suara Muhammadiyah
  • Cetakan: I, Maret 2021
  • Tebal: xxx + 286 halaman
  • ISBN: 978-602-6268-82-2

TAUHID WIJAYA: Wartawan, direktur JP Radar Kediri

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 



Source link