Peluang Damai AS-Tiongkok di Sektor Perdagangan Masih Alot

oleh -37 views


tribunpagi.com – Di era Presiden Joe Biden, Amerika Serikat dan Tiongkok mulai membicarakan kemungkinan untuk merundingkan kembali kesepakatan perdagangan fase satu yang disepakati tahun lalu. Artinya ada sinyal untuk mengakhiri perang dagang di antara kedua negara.

Akan tetapi, pengamat pesimis hal itu terjadi. Itu karena aturan kedua negara masih belum menemukan titik temu. Menurut pengamat, wacana itu mungkin lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan.

Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mengatakan pada Desember kemarin bahwa Tiongkok memiliki kapasitas dan permintaan untuk membeli lebih banyak produk AS. Namun, itu hanya berlaku untuk barang-barang yang benar-benar dibutuhkan atau diinginkan.

“Memperbaiki neraca perdagangan kedua negara hanya masalah waktu saja,” ungkap Wang Yi.

Wang juga menyarankan untuk memulai kembali negosiasi kesepakatan investasi antara kedua negara, yang dimulai selama pemerintahan era Barack Obama. Akan tetapi Biden tampaknya akan tetap berpegang pada sikap keras terhadap Tiongkok yang diadopsi oleh pendahulunya Donald Trump.

Sementara itu, calon Perwakilan Urusan Dagang AS, Katherine Tai mengatakan Tiongkok harus memenuhi komitmen dagang yang dibuatnya dalam perjanjian fase satu. Penasihat pemerintah dan profesor hubungan internasional di Universitas Renmin di Beijing, Shi Yinhong, mengatakan komentar Katherine adalah pesan terberat tentang kebijakan perdagangan Biden untuk Tiongkok.

“Katherine gagal berbicara tentang kemungkinan penyesuaian kebijakan dan malah menggarisbawahi kebutuhan untuk membuat Tiongkok memenuhi komitmen pembeliannya,” katanya.

“Tiongkok membuat konsesi besar dalam kesepakatan perdagangan fase satu, seperti berkomitmen untuk membeli lebih banyak barang,” tambahnya.

Seorang pengusaha AS di Beijing yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengatakan kesepakatan tahap pertama pasti gagal sejak awal. Dia pesimis karena tidak ada yang berharap Tiongkok dapat mencapai jumlah pembelian tersebut.

Berdasarkan kesepakatan itu, Tionglok setuju untuk membeli tambahan barang dan jasa AS senilai USD 200 miliar pada tahun 2020 dan 2021 dari level 2017. Tetapi dengan efek pandemi virus Korona dan hubungan yang memburuk antara kedua negara, maka meleset dari target tersebut.

Menurut analisis Peterson Institute of International Economics (PIIE) di Washington, Tiongkok hanya memenuhi 58 persen dari tujuan pembeliannya pada tahun pertama kesepakatan.
Pembelian produk energi Amerika juga gagal, hanya mencapai 40 persen dari komitmen tahun 2020.

Di pihak AS, baru-baru ini akan tetap memberlakukan tarif sanksi yang dikenakan oleh Trump pada produk-produk Tiongkok dan mengevaluasi bagaimana melanjutkannya setelah peninjauan. Terkait hal itu, Menlu Wang mengatakan AS harus membatalkan hukuman pembatasannya.

Di bawah ketentuan kesepakatan fase satu, pejabat tingkat atas dari AS dan Tiongkok diharapkan bertemu setiap enam bulan untuk melakukan pembicaraan. Setelah posisinya dikonfirmasi oleh Senat AS, Katherine akan memimpin tim AS dalam pertemuan itu.



Source link