Membumikan Kehidupan Digital dengan Komputasi Awan

oleh -53 views


tribunpagi.com – Di awal tahun, Amazon Web Services (AWS) memprediksikan bahwa penggunaan teknologi komputasi awan atau Cloud tahun ini akan makin marak. Prediksi tersebut tentu menjadi kabar yang menggembirakan. Sebab, maraknya penggunaan Cloud diperkirakan akan mampu mendorong makin inklusifnya teknologi digital di kalangan masyarakat luas yang berdampak pada peningkatan produktivitas, efisiensi dan gaya hidup sehari-hari.

Saat ini saja masyarakat sudah banyak disuguhi fakta tentang bagaimana mudahnya melakukan berbagai aktivitas digital dengan mudah dan tanpa kendala. Dari transaksi hingga donasi. Isu skalabilitas yang dulu sering muncul pada saat gelaran momen-momen besar kini makin jarang terdengar karena banyak pelaku bisnis digital yang kini telah mengadopsi teknologi cloud.

Keuntungan lain yang dirasakan bagi konsumen adalah makin banyak inovasi layanan yang tercipta berkat kecerdasan para pengembang solusi gaya hidup – yang rata-rata adalah startup digital – yang dapat mereka nikmati. Tak hanya itu, inovasi-inovasi layanan berbasis teknologi digital yang berfondasi Cloud mampu membuka peluang terbangunnya ekosistem ekonomi digital baru yang makin berdaya.

Optimisme tentang penguatan ekonomi digital boleh diharapkan mampu terealisasi jika melihat matarantai baru di dalam ekosistem ekonomi digital itu adalah kalangan tradisional yang selama ini terkesan jauh dari gegap gempita digitalisasi, seperti petani atau para pedagang sayur-sayuran di pasar tradisional.

Sayurbox, Membuka Pintu Go-Digital untuk Petani Indonesia
Melalui inovasi yang dikembangkan oleh startup digital, seperti contohnya adalah Sayurbox, para petani pun mendapatkan peluang untuk makin berdaya dengan dukungan teknologi. Tentu, tanpa harus membangun infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi sendiri yang sudah pasti berbiaya mahal dan kompleks.

Sayurbox adalah startup yang didirikan pada tahun 2017 dan menyediakan platform yang menghubungkan ribuan petani dengan konsumen. Awal berdirinya perusahaan dilatarbelakangi oleh kepedulian yang tinggi dari Amanda Cole, CEO dan Co-Founder Sayurbox, terhadap kesejahteraan petani Indonesia.

“Bersama Sayurbox, petani dapat merencanakan masa depan yang lebih baik dengan cara diversifikasi tanaman. Petani juga memiliki permintaan yang terjamin,” ujar Amanda.

“Sayurbox juga membuatkan rekomendasi bagi para petani untuk menanam jenis tanaman yang memiliki margin sekaligus permintaan yang lebih tinggi. Pemanfaatan teknologi menjadi kunci bagi Sayurbox untuk memperbaiki mata pencaharian petani.”

Untuk urusan teknologi Cloud yang meraka manfaatkan, Sayurbox mempercayakan pada pemanfaatan beberapa solusi dari AWS seperti Amazon Elastic Cloud Compute (EC2) untuk layanan terkelola yang membantu Sayurbox menyesuaikan komputasi dengan trafik, Amazon Simple Storage Service (S3) untuk penyimpanan file, Amazon CloudFront untuk content delivery network (CDN) yang lebih cepat dan dapat menyuguhkan file hanya dalam hitungan 60 milidetik untuk kepuasan pelanggan, dan Amazon Relational Data Service (RDS) untuk MySQL dan PostgreSQL untuk beban kerja analitika data.

Amanda Susanti Cole, CEO dan Co-Founder Sayurbox. (Istimewa)

Sayurbox bersama AWS juga sedang mencari cara untuk menambahkan fitur machine learning guna meningkatkan kemampuan Sayurbox dalam memperkirakan permintaan. Diharapkan, ini mampu memberikan peluang yang lebih baik bagi petani untuk menjual barangnya dengan harga yang lebih tinggi dan dengan kuantitas yang pasti.

Selain membantu petani, Sayurbox juga memberikan nilai tambah kepada konsumennya yang mayoritas adalah perempuan. Konsumen bisa mendapatkan bahan yang lebih segar dan berkualitas tinggi langsung dari petani.

Pada tahun ini, Sayurbox akan melakukan ekspansi layanan maupun lokasi. Rencananya Sayurbox akan menambah layanan next-day delivery untuk pengantaran hari esoknya, serta instant delivery untuk pengiriman cepat – sekitar 30 menit hingga 1 jam – di lokasi tertentu. Sayurbox juga berencana memperluas jangkauan layanannya di luar wilayah Jabodetabek, Bali, dan Surabaya.

Paxel, Menggerakkan Produktivitas Ekosistem dengan Layanan Logistik Inovatif dan Efisien
Contoh lain dari pemanfaatan teknologi cloud yang mampu mendorong penggunanya untuk berinovasi dan menebar dampak positif untuk masyarakat luas adalah layanan logistik dari Paxel. Melalui layanan pengiriman Same Day berskala nasional, biaya jasa yang kompetitif, serta kemudahan akses bagi konsumen berkat kehadirannya secara digital, Paxel membuka peluang berkembangnya banyak kegiatan perekonomian mikro yang selama ini terbatas pemasarannya akibat kondisi geografis.

Di industri makanan skala mikro, penjual masakan khas daerah bisa memperluas pasarnya hingga ke luar kota melalui pengantaran cepat, begitu pula dengan industri perawatan wajah yang saat ini sedang diminati tetap bisa mengirimkan produk-produk perawatan wajah yang butuh penanganan khusus serta waktu pengiriman cepat ke pelanggannya.
Layanan yang terus berkembang dan skalabilitas kemampuan Paxel dalam menghadirkan serta mengembangkan layanan tentu tak lepas dari dukungan teknologi yang dimanfaatkannya.

CTO Paxel Erick Soedjasa yang menggambarkan Paxel sebagai perusahaan teknologi yang bergerak di bidang logistik mengatakan bahwa sejak pertama diluncurkan, Paxel telah memanfaatkan teknologi guna meningkatkan efisiensi dalam hal operasional bisnis.

Contoh, Paxel menyediakan smart locker di sejumlah lokasi penting sebagai pengganti gudang besar dan tersentralisasi. Paxel menawarkan pengantaran barang secara door-to-door hanya dalam waktu delapan jam ke berbagai kota di Indonesia. Kantornya sendiri terletak di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Paxel memilih untuk menempatkan hosting infrastrukturnya di AWS karena AWS menyediakan platform sebagai pijakan awal, tentu dengan biaya awal yang rendah dan dilengkapi dengan sejumlah kapabilitas untuk scaling yang selaras dengan pertumbuhan bisnis.

Berbagai aplikasi Paxel – baik yang digunakan oleh sisi pelanggan, kurir, maupun dasbor backend yang dilengkapi dengan fungsi analitika – semuanya dibangun di atas Amazon Elastic Compute Cloud (Amazon EC2) dengan Elastic Load Balancing.

Perusahaan jasa pengiriman Paxel menyediakan smart locker di sejumlah lokasi penting sebagai pengganti gudang besar dan tersentralisasi. Paxel menawarkan pengantaran barang secara door-to-door hanya dalam waktu delapan jam ke berbagai kota di Indonesia. (Istimewa)

Kurir Paxel, yang dikenal dengan julukan Heroes, hanya perlu memotret penerima pesanan dan meminta parafnya lewat aplikasi Paxel sebagai bukti pengiriman. Foto ini kemudian disimpan di dalam bucket Amazon Simple Storage Service (Amazon S3). Engineer menggunakan Amazon Simple Queue Service (Amazon SQS) dan Amazon ElastiCache untuk unggahan konten yang lebih cepat guna menghadirkan pengalaman yang lebih baik bagi pengguna dalam menggunakan aplikasi-aplikasi mobile.

Perusahaan rintisan ini juga menggunakan Amazon Elastic Kubernetes Service (Amazon EKS) untuk mengelola lingkungan Kubernetes miliknya secara penuh. Amazon EKS memudahkan Paxel dalam meluncurkan, mengelola, dan melakukan scaling pada aplikasi yang terkontainerisasikan, sehingga engineer bisa lebih fokus dalam mengembangkan lingkungan Kubernetes perusahaan serta tugas operasional sehari-harit.

“Setiap layanan dan solusi AWS yang kami gunakan telah melalui pertimbangan panjang, sehingga dapat terus kita gunakan secara berkesinambungan. Investasi pada teknologi-teknologi AWS berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan yang nanti akan muncul di masa depan, sejalan dengan pertumbuhan perusahaan,” kata Erick.

Dukungan AWS untuk Pengembangan Bisnis Startup
Gunawan Susanto, Country Manager, AWS Indonesia mengatakan, AWS berkomitmen tinggi dalam mendukung kesuksesan startup melalui hadirnya program-program serta inisiatif yang beragam guna mendukung perkembangan Startup di setiap fase pertumbuhannya, mulai saat mereka berada di fase awal bisnis, hingga ketika bisnis memasuki fase kematangan.

“Secara fundamental, perusahaan startup berupaya untuk menghadirkan solusi atas setiap permasalahan baru dan mengurai kesenjangan struktural yang terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Mereka melakukan penerapan teknologi demi terciptanya akses serta model bisnis baru dan tidak terkungkung oleh cara-cara tradisional. Di Amazon, kami menyebutnya dengan istilah Day 1 thinking, yakni bagaimana kita bisa melihat beragam peluang baru yang ada di depan. Untuk itu, kami berkomitmen untuk terus mendukung startup dalam meraih kesuksesan bisnis,” tegas Gunawan.



Source link