Belajar dari Kasus Ara, Psikolog Minta Anak Diajarkan Situasi Terancam

oleh -27 views


tribunpagi.com–Kasus Ara, bocah 7 tahun asal Karanggayam yang diculik tantenya sendiri karena konflik keluarga menjadi pelajaran bagi orang tua untuk lebih berhati-hati. Salah satunya untuk mengajarkan situasi berisiko atau berbahaya yang mungkin dialami.

Dosen psikologi Universitas Airlangga Atika Dian mengatakan, orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan anak. Selain itu, orang tua perlu mengajarkan bagaimana anak bisa mencegah atau menanggapi situasi berisiko.

”Misal usahakan dekat dengan orang tua bila di tempat umum, menolak bila diberi sesuatu atau diajak orang asing, selalu meminta izin ke orang tua bila diajak pergi seseorang, berteriak sekencang-kencangnya bila merasa terancam,” tutur Atika pada Senin (29/3).

Dosen yang membidangi mental health of early childhood itu juga mengingatkan, anak yang sudah lebih besar bisa diajarkan untuk mengingat nama orang tua, alamat rumah, nomor HP orang tua, ke mana atau siapa yang bisa dimintai tolong.

”Misalnya, bila anak di tempat asing tersesat atau lari dari upaya penculikan bisa ke polisi, tenaga kesehatan, dan seterusnya,” ujar Atika Dian.

Menurut Atika, orang tua perlu memastikan keselamatan dan kesejahteraan anak dengan melakukan pemeriksaan berkala. ”Pastikan ada orang dewasa terpercaya yang bisa bertanggung jawab ke anak selama tidak bersama orang tua, misal orang tuanya bekerja,” terang Atika Dian.

Sementara itu, Atika juga menyoroti masalah AH, tersangka penculikan Ara yang juga masih berstatus sebagai tante Ara. Sebelumnya, AH mengaku bahwa dia menculik Ara karena Ibu Ara menampar anaknya. Terkait hal itu, Atika mengingatkan bahwa setiap keluarga mempunyai nilai yang unik. Bisa jadi berbeda dari keluarga lain.

”Bila ada yang kurang berkenan atas perilaku anak, sebaiknya keberatan itu disampaikan kepada orang tua dari si anak. tujuannya untuk saling mengingatkan. Idealnya, masalah di keluarga inti menjadi masalah di keluarga inti saja. Tapi, di masyarakat kolektif seperti kita, seringnya satu masalah di keluarga inti menjadi urusan keluarga besar. Pada intinya konflik di antara sesama orang tua, perlu diselesaikan tanpa melibatkan anak-anak,” kata Atika.

Saksikan video menarik berikut ini:



Source link