Jumlah Perokok Naik, Penderita Kanker Paru Meningkat 11,6 Persen

oleh -26 views


tribunpagi.com–Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) Jawa Timur mengajak masyarakat untuk lebih sayang terhadap kesehatan. Caranya, mewujudkan hidup sehat tanpa asap rokok.

Ajakan itu disampaikan Ketua WITT Jawa Timur Arie Soeripan, pada Kamis (4/2). Ajakan tersebut disampaikan selaras dengan 4 Februari sebagai peringatan hari kanker sedunia.

Menurut dia, ada makna penting dari peringatan itu. Yakni mengingatkan manusia bahaya kanker.

”Selain itu, bentuk dukungan bagi para pasien kanker di Indonesia, khususnya Jawa Timur,’’ ucap Arie Soeripan ketika dihubungi pada Kamis (4/2).

Arie menyebut, kanker paru paling sering ditemui di masyarakat. Pemicu kanker adalah perilaku atau kebiasaan merokok.

Arie memaparkan data bahwa kanker paru menduduki posisi pertama kasus baru pada jenis penyakit kanker. ”Persentasenya 11,6 persen atau 2,1 juta dalam setahun,” tutur Arie Soeripan.

Di Indonesia, kanker paru menempati urutan ke delapan Asia Tenggara. Kasusnya meningkat 10,85 persen dalam lima tahun terakhir. ”Dan pemicu terbesarnya adalah asap rokok,’’ ungkap Arie Soeripan.

Dia menyebut, perilaku merokok sudah merebak di masyarakat tanpa memikirkan dampak terhadap kesehatan. Padahal, selain menyebabkan kanker, asap rokok memicu penyakit kronis lainnya.

”Seperti asma, jantung, gangguan reprorduksi bagi perempuan, kelahiran prematur pada bayi, katarak, serta beragam jenis kanker lain,’’ urai Arie Soeripan.

Karena itu, WITT Jawa Timur mengajak masyarakat merenung pada momen hari kanker sedunia.

”Pandemi Covid-19 masih berlangsung. Tapi, kewaspadaan terhadap kanker juga harus diperhatikan. Apalagi, kanker merupakan satu dari sekian komorbid yang membahayakan bagi pasien Covid-19,” terang Arie Soeripan.

Arie juga mengajak pemerintah memperhatikan perilaku merokok. Beberapa pemerintah daerah sudah memiliki regulasi tentang kawasan tanpa rokok dan kawasan terbatas merokok.

”Kami sangat mengapresiasi itu,’’ kata Arie Soeripan.

Namun, menurut dia, upaya penegakan regulasi tersebut perlu dipertajam. Sebab, regulasi yang mengatur kawasan tanpa rokok dan kawasan terbatas merokok sejalan dengan program pemerintah yakni Jatim Sehat.

”Saatnya melokalisir perokok, lalu meminimalisir, dan berujung pada larangan merokok,’’ ucap Arie Soeripan.

Saksikan video menarik berikut ini:



Berita ini telah tayang di Situs JAWA POS