BMKG Ungkap Banjir di Semarang Akibat Hujan Ekstrem

oleh -39 views


tribunpagi.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan, hujan lebat disertai kilat atau petir yang melanda Kota Semarang, Jawa Tengah pada pada Sabtu, 6 Februari 2021 pukul 02.00 hingga 05.30 WIB akibat cuaca ekstrem. Hal itu menyebabkan genangan di beberapa titik di wilayah Kota Semarang, Jawa Tengah.

’’BMKG Ahmad Yani Semarang telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem pada tanggal 6 Februari dari Pukul 01.30 WIB dan telah di update pukul 05.20 WIB. Kota Semarang termasuk salah satu wilayah yang masuk dalam peringatan dini tersebut,’’ kata Kepala Stasiun Klimatologi Semarang Sukasno dalam keterangannya, Minggu (7/2).

Sukasno menuturkan, BMKG juga telah mengeluarkan informasi prakiraan cuaca berbasis dampak signature pada 4 Februari 2021 yang berlaku 5 Februari 2021 pukul 07.00 WIB sampai dengan 6 Februari 2021 pukul 07.00 WIB melalui laman bmkg.go.id. Hal ini menyebabkan potensi dampak hujan lebat sehingga berpotensi terjadi  banjir di wilayah Jawa Tengah dengan kategori waspada, termasuk Kota Semarang.

’’Berdasarkan data AWS Stasiun Klimatologi Semarang, hujan terukur sejak jam 00.10 WIB (17.10 UTC). Intensitas hujan mulai meningkat menjadi lebat – sangat lebat sejak pukul 02.10 WIB (19.10 UTC). Periode intensitas lebat – sangat lebat berlangsung sampai dengan pukul 05.30 WIB (22.30 UTC),’’ beber Sukasno.

Menurut Sukasno, curah hujan tertinggi terukur di pos hujan beringin Kecamatan Ngaliyan dengan curah hujan 183 mm. Sementara itu, curah hujan terendah di Pos Hujan Meteseh Kecamatan Tembalang yang tercatat 69 mm.

Berdasarkan pengamatan pada Citra Satelit Himawari, sambung Sukasno, awan konventif sudah mulai tumbuh pada 6 Februari 2021 pukul 02.00 WIB dan semakin bertambah hingga menjelang pukul 07.00 WIB. Dia menyebut, pertumbuhan awan tersebut memicu hujan yang terjadi di Kota Semarang dengan intensitas lebat.

Sukasno menjelaskan, analisis sementara menunjukkan pengaruh aktifnya Angin Monsun Dingin Asia dan adanya daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.

’’Kondisi tersebut didukung dengan masa udara yang labil serta kelembapan udara yang cukup tinggi dari lapisan bawah hingga lapisan atas. Sehingga mendukung proses pembentukan awan hujan di Jawa Tengah, khususnya sebagian besar wilayah pantura tengah-barat termasuk Kota Semarang,’’ tegas Sukasno. (*)

 

 

Saksikan video menarik berikut ini:



Berita ini telah tayang di Situs JAWA POS