‘Ngeli ning Ora Keli’

oleh -33 views


Cinta tak perlu pengorbanan. Saat kau mulai merasa berkorban, saat itu cintamu mulai pudar.

SETENGAH pekan berlalu sejak Tingting Jahe cabut dari Pendekar Sastrajendra. Lelaki tua itu ditinggalkannya di suatu ketinggian mirip Tibet bersama putri angkatnya yang masih kanak-kanak, Tingting Bocah. Cekaman tak kurang-kurang mendera perempuan berpinggang aduhai ini. Lelaki-lelaki tak berbelas kasih malah teraduk-aduk gairahnya melihat pinggangnya semakin aduhai justru saat ia berjalan terseok-seok.

Salju tetiba merupa beruang kutub raksasa di tengah malam pekat. Begitu antara lain cekaman yang mendera Tingting Jahe, hingga siluet satu–dua tanaman yang patut diduga beracun durinya. Dulu kakeknya sering menguraikan ciri-ciri pohon yang goresan, apalagi tusukan duri maupun onaknya mematikan.

Dalam mimpinya setengah pekan lalu kakek-kakek pendekar menyuruhnya pergi ke Pulau Gagal Ganda Bathang. ”Di sana disemayamkan kitab rahasia Mas Elon,” tandas Ki Bansosdi Tilap, namanya. Giginya panjang-panjang mirip taring drakula. ”Ke sanalah. Kau akan tahu sendiri nanti maknanya.”

Sepeninggalnya di ketinggian mirip Tibet, malam menjalankan malam seperti biasa. Makhluk-makhluk yang hobi begadang dan siangnya malah menjadi kaum rebahan punya gawe. Burung hantu salju yang matanya lholak-lholok lebih awas di kegelapan, menelisik tikus-tikus yang tidur. Yang lebih doyan belalang menyelidiki belalang tidur. Ada juga yang terbang kian kemari mengusut keberadaan serangga yang musiknya mengherankan seperti tonggeret. Mereka menamainya Heran Musikku. Suaranya ada, tapi sosoknya wallahu a’lam bis-sawab.

”Heran Musikku itu dilindungi, Cuuuuuk,” nyinyiran seluruh burung hantu salju. ”Mengkhayal tentu bagus. Asal jangan kebablasan ngayal bisa menangkap Heran Musikku. Mending yang pasti-pasti saja: Yuk nangkap belalang, tikus…”

Pemburu buron Heran Musikku akhirnya menyisih. Ia terbang mengambil rute tak lazim dan melintas di atas Tingting Jahe yang mulai tersesat. Perempuan dengan bibir ranum dan penuh dan berwarna daging bawah kulit manggis ini melongo. Setelah tiga kali burung itu melintas di atasnya baru ia punya ide menjadikannya navigator.

Burung yang disinisi dengan julukan ”KPK” oleh konco-konconya itu terus-menerus terbang menjadi GPS kalau dalam istilah di zamanmu kelak. Malah sekali-sekali menjatuhkan keratan daging entah daging apa (”Yang pasti bukan serpihan-serpihan daging Heran Musikku,” mungkin begitu nyinyir teman-temannya andai menyaksikannya). Tingting Jahe memungut dan memakannya hingga ia terbawa ke suatu sungai yang masih belum membeku.

***

Hanya itu yang bisa diingat Tingting Jahe sembari menopang dagunya yang belah di gubuk dinding bambu. Tak ada salju. Panas. Matahari terasa kuat melalui sela-sela dinding anyaman bambu.

”Aku menemukanmu pingsan di pesisir pekan lalu,” lelaki muda muncul di pintu. ”Tahun lalu ada yang meramal, pemimpin pulau ini akan jatuh tahun ini bila sampai ada perempuan asing yang menginjakkan kakinya di daratan. Peramal itu sudah kami enyahkan!”

”Percaya ramalan, Kisanak?”

”Tentu sama sekali tidak. Kami bernalar.”

”Kalau begitu, kenapa kalian begitu takut akan ramalan?”

Lelaki itu, Bra, merasa tertampar. O ya, kenapa panggilannya Bra. Begini, di zamanmu kelak akan ada pemain bola unik. Ia tetap memanen gol walau usianya sudah menua. Namanya Zlatan Ibrahimovic. Lelaki di ambang pintu itu persis dia. Gelung rambutnya pun persis di atas kepala. Jadi, panggil saja dia Bra.

Berkatalah Bra setelah gelagapan beberapa jurus, ”Bagiku, ramalan buruk justru baik agar kami semua di pulau ini bersatu berusaha menghindarinya. Kelak itu pula fungsi ramalan Jayabaya, Ronggowarsito, Nostradamus. Jika ramalan itu kebetulan saja sesuai takdir, ya monggo, sebab kami percaya bahwa seluruh jalan untuk menghindari takdir adalah jalan menuju takdir itu sendiri.”

”Engkau tak berusaha menghindari ramalan itu, Kisanak! Engkau malah membuat seorang perempuan asing sepertiku menginjakkan kaki semakin masuk ke daratan. Kenapa tak engkau bunuh saja aku di pantai?”

”Jangan lancang mulutmu! Biarkan itu menjadi urusanku!”

Gubrak brak brak brak!!! Pintu gubuk dia tutup-banting dan memantul-mantul.

***

Hari ke-10 di gubuk gedek bambu petung.

”Tingting Jahe, kamu ini perempuan yang keli (terhanyut) apa perempuan yang sedang bertapa laku, mengikuti ajaran leluhur tentang bagaimana seyogianya kita mengarungi hidup? Kamu bertapa laku ngeli ning ora keli (menghanyut tapi tidak terhanyut)?”

Tingting Jahe menyibak rambut terurainya yang biasanya kinclong tapi kini kusam, kusut, dan bergerombol mirip sulur rimba. Ia menjawab asal, ”Aku ngeli ning ora keli.”

Baca juga: Dunia Pergagalan

Bra kaget, ”Jadi, kamu tampak luarnya saja mengikuti arus zaman, kamu membiarkan ikut arus terdampar di sini, tapi tidak jiwamu?”

Tingting Jahe sama sekali tak mengerti omongan Bra.

Batin Bra, ”Berarti langkahku sudah benar. Kupertaruhkan ramalan buruk itu terjadi, tapi bisa kusandera perempuannya Pendekar Sastrajendra. Hanya perempuannya yang ketularan berpikir ngeli ning ora keli walau pura-pura tak mengerti hal itu. O, selangkah lagi aku akan bisa menemukan pendekar bangkotan itu, pembunuh ayahku, Pendekar Pasti Pas. Akan kupaskan juga dendamku. Nujum buruk atas pulauku? Ndak patheken!” (*)

SUJIWO TEJO,tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 



Berita ini telah tayang di Situs JAWA POS