Aktivis Ecoton Sebut Galon Sekali Pakai Membuat 3R Kurang Efektif

oleh -30 views


tribunpagi.com – Potensi bahaya akibat kandungan mikroplastik di galon air minum sekali pakai terus menjadi sorotan. Kali ini disampaikan organisasi lingkungan Ecoton. Mereka dengan tegas menolak penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Termasuk untuk kemasan galon air minum sekali pakai.

Peneliti organisasi lingkungan Ecoton Andreas Agus Kristanto Nugroho menilai produsen air kemasan galon sekali pakai cenderung mencari kesempatan untuk menggunakan momentum pandemi Covid-19. Yaitu dengan mengklaim produk mereka lebih higienis.

’’Produsen galon sekali pakai ini telah melakukan greenwashing seolah-olah dia peduli lingkungan,’’ kata Andreas kepada wartawan Rabu (20/1).

Namun, ketika ditelusuri lebih lanjut, itu hanya klaim mereka supaya produk galon sekali pakai ini dibeli masyarakat. Padahal untuk urusan higienis, galon guna ulang atau isi ulang juga higienis.

Andreas mengatakan bahwa cara yang paling benar dalam mengurangi sampah plastik adalah reduce atau mengurangi penggunaan plastik. Kemudian reuse (menggunakan secara berulang) dan kalau sudah mentok baru recycle atau mendaur ulangnya.

Dia menjelaskan saat ini diperkirakan hanya 20 persen saja dari sampah plastik itu yang benar-benar bisa di-recycle. Sisanya sebanyak 80 persen adalah downgrade atau sudah tercemar. Kehadiran galon sekali pakai ini bisa dipastikan akan menambah sampah plastik yang ada di Indonesia dan lebih membahayakan lingkungan.

Baginya kehadiran galon sekali pakai ini menunjukkan program pengelolaan sampah yang digerakkan pemerintah selama ini melalui 3R (reduce, reuse, recycle) menjadi kurang efektif. ’’Karena, dengan mengizinkan galon sekali pakai ini beredar di masyarakat, pola pikirnya masih mendahulukan recycle,’’ katanya.

Dia mengatakan alasan produsen galon sekali pakai yang menganggap kemasannya masih bisa di-recycle tidak langsung bisa dibenarkan. Apalagi belum ada rekam jejak produsen itu dalam melakukan upaya daur ulang.

’’Meskipun bisa didaur ulang pasti galon sekali pakai ini tetap akan menambah banyak mikroplastik yang dilepas ke alam,’’ tuturnya.
Potongan-potongan plastik itu berpotensi menjadi transporter bahan-bahan berbahaya yang ada di lingkungannya. Karena plastik itu adalah zat kimia, maka bisa mengganggu kesehatan manusia.

Untuk itu, Andreas menyarankan agar pemerintah mengubah defenisi sirkular ekonomi. Menurutnya, sirkular ekonomi bukan hanya dalam bentuk ekonomi semata. Tetapi bagaimana masyarakat juga bisa bertanggung jawab dengan pola konsumsi mereka. Maka ketika masyarakat sadar bahwa yang dikonsumsinya itu menjadi sampah, maka mereka tidak harus mengulangi pemakaian terhadap produk itu.

’’Seharusnya yang dimaksud sirkular ekonomi itu seperti itu, dan ini yang tidak dibentuk oleh pemerintah,’’ tukasnya.



Berita ini telah tayang di Situs JAWA POS