Tingting Jahe dan Tingting Bocah

oleh -21 views


Perempuan suka es krim dan cokelat, namun lebih suka kepastian. Zaman aku hidup belum ada cokelat, namun biji kakao sudah berjibun-jibun. Es krim juga belum ada. Walau begitu, air dingin yang terasa sampai ngebor pori-pori juga tak kurang-kurang tersedia di perigi-perigi pegunungan.

SEORANG perawan tingting bakul kedai alias Tingting Jahe meminta kepastian kepada Keledai Parthai bahwa besok, atau paling telat lusa, dia dan Tingting bocah sudah bisa meninggalkan Dukuh Dengkul Mlonyoh. Tingting Jahe mengendus adanya bahaya yang terlalu serius bagi Perawan Tingting Bakul Kedai alias Tingting bocah, yang baru berusia 9 tahun, bila mereka terlalu lama tinggal di dukuh itu.

Keledai keemasan Parthai mengibas-ngibaskan surainya yang warna pelangi. Kaki depannya menjejak-jejak tanah di bawah pohon kelapa. Guru Pendekar Sastrajendra dalam ilmu Berlian Your Eyes itu matanya berkaca-kaca. Pertanda hatinya penuh kemelut dan kecamuk.

”Tingting Jahe, kamu lihatlah pasangan petani di pematang itu. Mereka tenang selagi mereka rasakan kehadiran kita di antara mereka. Mereka damai dan bahagia,” Keledai Parthai menggosok-gosokkan kaki depannya ke betis Tingting Jahe.

Ya, setuju. Tingting Jahe sepakat dengan Keledhai Parthai. Sayangnya, menurut kepastian hitung-hitungan hatinya, Tingting bocah terancam bila lebih dari lusa mereka baru pergi.

”Sejak paduka sebagai ketua tim independen mengumumkan hasil temuan terbunuhnya 6 laskar Rawa Rontek, Tingting bocah terus-menerus menerima ancaman pembunuhan,” Tingting Jahe sambil menyodorkan daun lontar. Di situ tertera, ”Akan kupenggal bocah ini dan kujadikan sup paru goreng!!!”

Ada yang ancamannya tanpa tulisan. Cuma gambar. Gambar pengancamnya yang sedang mencukil mata gambar Tingting bocah. Di gambar lain yang merupakan serial tampak pengancam itu menyeruput sup jamur kuping yang dicampur kuping Tingting bocah.

”Heuheuheu… Lupakan semua ancaman itu, Tingting Jahe. Berserahlah padaku. Masih ingat cucu Sang Pembentur Agung yang bikin ulah waktu kita umumkan hasil temuan tim independen? Baru separo kita umumkan hasil temuan siapa pembunuh 6 laskar Rawa Rontek, cucu Sang Pembentur Agung berteriak-teriak. Kita selesaikan dulu separo pengumuman berikutnya. Tuntas. Baru kita hadapi dia sampai akhirnya dia kini membeku jadi Patung Kebodohan di gapura dukuh.”

Tingting Jahe bukannya tak percaya kepada perlindungan Keledai Parthai. Bahkan, tanpa kesaktian dia pun, Tingting bocah yang jantungnya dihunjam ribuan anak panah tak mati-mati akan bisa melindungi dirinya sendiri. Belum lagi andai Tingting Jahe tahu bahwa Tingting bocah pernah cepat menuntaskan lawannya beruang kutub yang segede Amerika. Sementara Pendekar Sastrajendra menghadapi serigala kutub sebesar Tiongkok butuh waktu, menurut Tingting bocah, ”tiga kali Lebaran.”

*

Jagabaya yang melakukan pembunuhan terhadap 6 laskar Rawa Rontek adalah jagabaya suatu wilayah. Di luar koordinasi dengan jagabaya pusat. ”Selidiki kebenaran desas-desus ini,” kata Keledai Parthai kepada Tingting Jahe. Karena itu, aku tahan dulu kepergianmu bersama Tingting bocah.

”Bagaimana caraku menyelidiki hal ini, Paduka?”

Keledai Parthai tak menjawab apa-apa. Ia hanya terus berlalu. Pertanda segala hal ihwal tentang penyelidikan itu diserahkannya total.

Esok paginya, Tingting Jahe baru saja megal-megol di atas pematang sawah ketika tiga lelaki kekar meringkusnya dari belakang. Seperti telah direncanakannya, ia tak meronta-ronta maupun berteriak.

Di kejauhan, dari balik pohon enau, Tingting bocah memukul ketiga lelaki itu dengan pukulan jarak jauh. Ketiganya pingsan. Tingting Jahe dan Tingting bocah menyeret satu per satu ketiganya ke suatu huma yang tak jauh dari situ.

”Apa betul jagabaya wilayah yang melakukan operasi pembunuhan 6 laskar Rawa Rontek tak berkoordinasi dengan jagabaya pusat?” Tingting Jahe menginterogasi setelah mereka siuman.

Tak ada jawaban.

Plak!!!! Plak!! Plak!!!!!

Tangan Tingting bocah merata ke ketiga lelaki kekar itu.

Sampai tiga hari tak mendapat jawaban, Tingting Jahe dan Tingting bocah habis kesabarannya. Keduanya dapat memaksa ketiga lelaki itu menunjukkan rumah komandan jagabaya suatu wilayah.

*

Komandan regu jagabaya suatu wilayah yang menggelar operasi pembunuhan 6 laskar Rawa Rontek masih kelon dengan istrinya ketika selimutnya ditarik perlahan-lahan oleh Tingting bocah. Pada sentakan terakhir selimut tikar, komandan itu bangkit dan di tangannya sudah tergenggam pedang.

Di luar tadi sebelum Tingting bocah menyusup ke rumah komandan ini, Tingting Jahe wanti-wanti agar jangan meladeni duel dengan komandan ini di luar rumahnya.

”Kalau komandan itu sampai keluar dan berlatar belakang langit, seluruh badan dan senjata-senjatanya akan menyaru dengan warna langit,” jawab Tingting Jahe ketika Tingting bocah penasaran.

Maka, berkali-kali komandan itu menggiring Tingting ke luar rumahnya, berkali-kali pula Tingting bocah bertahan. Bahkan ia tak mau beranjak dari kamar komandan ke ruang lain, misalnya. ”Soalnya ruang tamunya dicat warna langit,” pikirnya.

Hingga Tingting bocah merebut pedang komandan dan mengarahkan pucuknya ke jakunnya, ”Katakan, kenapa kalian tak berkoordinasi dengan jagabaya pusat?” (*)

SUJIWO TEJO, tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 



Berita ini telah tayang di Situs JAWA POS