Tibet, Bukan, Tibet

oleh -17 views


Menikah itu nasib. Mencintai adalah takdir. Kau bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kaurencanakan cintamu untuk siapa.

”DAN setiap jalan untuk menghindari takdir adalah jalan menuju takdir itu sendiri.” Keledai Parthai menyandar pohon akasia. Terkekeh-kekeh kepada Tingting Jahe. Tingting bocah yang dari tadi dituntunnya, perempuan rambut tebal bermata bola, entah sudah separo ketiduran atau masih full terjaga. Ia mendekap anjing berkaki depan sebelah, boneka anjing dari rumbia.

Sudah melewati 2–3 bukit, perjalanan setapak dari Dukuh Dengkul Mlonyoh itu sudah mereka tempuh hampir setengah harian. Keledai Parthai alias Thai keemasan mengibaskan surainya yang berwarna pelangi, lalu merendah. Ia mempersilakan Tingting Jahe dan Tingting bocahnya untuk menunggangi punggungnya.

Tingting Jahe memandangi dalam-dalam Keledai Parthai. Sayang bayangan daun-daun asoka dan ganitri rebah tepat di matanya yang indah. Thai tak begitu jelas menangkap makna tatapan itu. Dugaannya, Tingting Jahe sungkan. Apalagi dengan tambahan beban anak kecil.

”Tak usah sungkan. Ayo, aku akan membawa kalian di jalan setapak ini. Hari makin gelap. Kiri jalan ini jurang. Kanan tebing cadas.” Hanya itu yang bisa Thai katakan. Tingting Jahe dan Tingting bocah sudah berada di atas punggungnya. Thai tak perlu menambahkan bahwa punggungnya pernah membawa Gunung Mahameru dari India ke Nusantara. Seperti pernah dikatakan kepada Pendekar Sastrajendra saat menyepelekan kekuatannya.

Matahari sudah semakin masuk ke dalam jurang di kiri kanan sampai tak bisa dilihat lagi. Ketiganya menghentikan perjalanan. Bikin api unggung. Tidur.

”Sudah berapa gunung kita lalui, Thai? Lima? Tadi waktu kita sama-sama jalan, sudah kita lalui 2–3 gunung kan?”

”1.000 gunung.”

”Hah?”

”Maaf, tadi kalian ketiduran. Aku membawa kalian terbang. Tapi, Tingting Jahe, ketahuilah… bocah ngorok sampingmu itu lebih hebat. Sekali lompatan, ia bisa keliling tujuh putaran bumi.”

”Bisa segitunya, Thai?”

”Karena dia putri angkat Pendekar Sastrajendra!”

Mendengar nama itu Tingting Jahe tersipu-sipu. Thai bijak sekali menyebut ayah angkatnya Pendekar Sastrajendrra, bukan induknya Pendekar Elang Langlang Jagad.

Pagi telah menyingsing. Api unggun sudah mulai pucat. Tingting Jahe mengucak-ucak matanya ketika Keledai Parthai sudah tiada.

”Maka, saat itu aku memerintahkanmu membebaskan Tingting bocah di Dusun Kake’anmu, sejauh lima bukit bambu satu ngarai talas, dari tempat kita di Dukuh Dengkul Mlonyoh.”

Keledai Parthai menuliskan itu di tanah… Disambungnya pada pelepah kering kelapa. ”Selamat bertemu dengan Pendekar Sastrajendra. Jaga, jangan sampai ada lelaki yang mengganggumu di perjalanan. Karena sekali ada yang mengganggumu, Tingting bocah ini akan keluar aslinya. Keadaan akan gempar.”

*

Hari pertama sepeninggal Keledai Parthai, pesan sudah terlanggar. Seorang lelaki pemakan paha sapi asap utuh tertarik keayuan Tingting Jahe. Sebenarnya bukan cuma dia. Hampir pengunjung kedai satu-satunya di bawah randu alas tepi ngarai itu naksir Tingting Jahe. Ada yang tertarik matanya. Keningnya. Lengannya. Hidungnya. Pinggangnya. Tapi, rata-rata tertarik belah dada ranumnya.

Pemilik kedainya sendiri pun naksir rambut Tingting Jahe yang panjang dan berkilau-kilau.

Tapi, yang tampak paling bernafsu ya memang lelaki pemakan paha asap sapi itu. Yang kali ini matanya sudah keluar tercongkel oleh tulang sapi. Dicongkel sendiri oleh yang bersangkutan dengan arahan tenaga dalam jarak jauh oleh Tingting bocah.

Satu per satu pengunjung menyaksikan itu. Mereka berteriak. ”Tangkap bocah bedebah itu. Aku pernah melihatnya mengacau di pasar apung Dusun Kake’anmu…!!!” teriak lelaki berikat kepala sembari nyeruput tengkleng cebong dan kampret.

Tingting bocah sigap. Dengan peringan tubuh ia gamit Tingting Jahe. Keduanya kini sudah bercokol di atas pucuk randu alas tepi ngarai itu. Menyaksikan semua yang terbakar ludes nun di bawah sana.

”Kamu membakar semuanya, Tingting?”

Bocah itu mengangguk. Alasannya, mereka semua berdosa. Pemilik kedai itu pemimpin jaringan mata-mata persekutuan selatan. Tugas utamanya, mencatat lengkap nama-nama pengunjung dan siapa yang tak setuju dengan pelantikan enam menteri baru.

*

Pada jalan setapak antara ngarai itu ada rombongan bebek. Kadang sesuai alur jalan setapak, kadang potong kompas. Tingting Jahe dan Tingting bocah menandai, selama mengikuti rombongan bebek-benek, mereka tidak pernah berpapasan dengan bromocorah.

Di suatu percabangan jalan setapak, mendadak seekor bebek berpisah. Tingting Jahe dan Tingting bocah setelah bingung campur rasa kasihan memutuskan mengikuti bebek yang sendirian itu. Terdengar keributan antarmanusia pada ujung jalan setapak yang bebek-benek tadi ke sana. Tingting Jahe dan Tingting bocah terus membuntuti bebek yang sendirian ini.

Bebek itu berjalan di atas macan-macan ketiduran. Kedua Tingting membuntutinya. Berjalan di atas punggung piton raksasa ratusan meter. Kedua Tingting membuntutinya.

Wek wek wek wek….

Bebek itu berjalan di awang-awang… Tingting Jahe dan Tingting bocah membuntutinya. Keduanya tertatih-tatih di atas awang-awang hingga tampak sosok lelaki tua di gapura tahun baru, yang Tingting Jahe tahu betul siapa gerangan. Ia pernah diselamatkan di kedainya dari ulah lelaki maniak pilkada yang salah masuk lorong waktu… Ia ingin ikut pilkada, tapi masuk ke lorong waktu Majapahit. (*)


SUJIWO TEJO, tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 



Berita ini telah tayang di Situs JAWA POS