Mengibu

oleh -16 views


Ada yang menghebohkan masyarakat Indonesia pada era 80-an. Seorang bocah bernama Arie Hanggara disiksa bapaknya dengan didukung ibu tirinya hingga meninggal.

LEWAT film Arie Hanggara (1985), kekejaman yang diterima bocah 8 tahun itu bak sedang direka ulang dalam gedung bioskop hingga air mata para penonton bercucuran. Orang-orang tidak percaya ada orang tua yang tega menyiksa anaknya sedemikian rupa. Orang-orang juga semakin meyakini bahwa ibu tiri benar-benar ibu jahat yang tidak berhati.

Dalam beberapa tahun terakhir, media menyajikan banyak berita tentang kekejian yang menimpa anak-anak malang tanpa dosa. Ada bocah yang perutnya dipukuli, kepalanya dibenturkan ke tembok, hingga tubuhnya diseret motor. Ada pula bayi yang dicekoki air serupa sapi gelonggong, dikurung dalam lemari, bahkan dimasukkan ke mesin cuci. Semua kesadisan itu jauh melampaui apa yang disajikan film horor yang paling mengganggu sekalipun karena dua hal. Pertama, itulah kenyataan. Kedua, pelaku penyiksaan adalah ibu kandung korban. Rangkaian fakta keji tersebut mengail pertanyaan, ”Mengapa ibu kandung bisa sesadis itu?” Suatu kesadaran pun muncul di tengah masyarakat: ibu baik ternyata bisa berubah menjadi ibu jahat.

Ada yang bengkok dari konstruksi ibu. Itu bisa dilihat dari kisah Nobuyo, seorang tokoh perempuan dalam film Jepang, Shoplifters. Nobuyo tergerak menyelamatkan hidup seorang bocah bertubuh penuh bekas luka dari tangan orang tuanya yang kasar dan tidak menginginkannya. Keputusan tersebut membuat Nobuyo digelandang ke kantor polisi sebagai tersangka penculikan. Saat Nobuyo diinterogasi, seorang polwan menyatakan bahwa anak-anak membutuhkan ibunya dan ibu adalah perempuan yang melahirkan mereka. ”Kau tidak bisa menjadi ibu, kecuali kau melahirkan anak,” tegas si polwan yang membuat hati Nobuyo remuk. Nobuyo tersadar, jika begitu, dirinya tidak mungkin menjadi ibu karena tidak mampu melahirkan.

Ada tiga makna ibu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): (1) wanita yang telah melahirkan seorang anak; (2) sebutan untuk wanita yang sudah bersuami; (3) panggilan yang takzim bagi wanita, baik yang sudah bersuami maupun belum. Sekilas, posisi ibu dalam ketiga makna di atas tampak sejajar, tetapi ternyata tidak. Ibu pada makna pertama memiliki derajat lebih tinggi, bahkan mencapai batas suci. Pengkultusan itu tidak terjadi begitu saja, melainkan hasil konstruksi.

Setiap perempuan ditakdirkan fisiknya sebagai calon ibu lewat sistem reproduksi yang khas. Kata ”calon” barulah terlepas dari ”ibu” ketika dia melahirkan. Dengan kata lain, seorang ibu terlahir bersamaan dengan kelahiran anaknya. Dengan darah yang ditumpahkan saat melahirkan, ibu kandung dibaptis. Di sisi lain, ada perempuan yang tidak mengalami proses tersebut, entah karena kondisi medis atau sosialnya. Beberapa perempuan juga mungkin akan menjadi ibu asuh atau ibu sambung (ibu tiri) seorang anak. Oleh masyarakat, ibu kandung lantas dianugerahi sifat-sifat positif. Sebaliknya, ibu asuh dan ibu tiri sangat mudah dilekati sifat-sifat negatif. Pada titik ini, muncullah istilah ibu baik dan ibu jahat.

Sastra kita merekam pendikotomian ibu baik dan ibu jahat dalam berbagai kisah. Umpamanya, cerita Calon Arang yang merepresentasikan ibu jahat. Tokoh Janda dari Dirah yang berkemampuan sihir dinarasikan sebagai ibu yang serupa penyihir haus darah. Sementara itu, kisah Dewi Sri digambarkan sebagai ibu baik yang merawat kesuburan bumi sehingga berguna bagi manusia.

Pengkultusan ibu menghadirkan pandangan bahwa ibu adalah seorang manusia yang penuh kasih, penyayang, dan murah hati. Sifat-sifat keibuan dianggap serupa sifat materi yang mewujud begitu saja, padahal tidak demikian adanya. Menurut Simone de Beauvoir, seorang filsuf perempuan asal Prancis, insting keibuan itu tidak ada. Ia bukan bawaan lahir seorang perempuan, melainkan lebih semacam reaksi yang dipelajari dari situasi, pengalaman, dan lingkungan sekitarnya. Melahirkan tidak serta-merta membuat seorang perempuan mengibu atau menjadi ibu yang bukan sekadar panggilan.

Pada mulanya, insting keibuan hanyalah sebentuk respons maternal terhadap pengurangan jumlah bayi yang lahir akibat perubahan lingkungan sosial. Evelyn Reed dalam Evolusi Perempuan dari Klan Matriarkal Menuju Keluarga Patriarkal menjabarkan terjadinya proses evolutif tersebut ketika manusia mulai melakukan domestifikasi dalam kehidupan sosial. Menurut dia, meski kedua jenis kelamin setara, para ibulah yang dilengkapi dengan respons maternal yang mengarah pada karakter keibuan, yaitu merawat, menjaga, dan membesarkan anak-anaknya. Proses evolutif yang berlangsung selama jutaan tahun inilah yang kemudian mengekalkan hegemoni bahwa seorang perempuan setelah melahirkan mestilah mengibu.

Serupa bayi baru lahir yang sengaja diletakkan di atas dada ibunya agar instingnya menyusu terpicu, hal serupa terjadi pada sang ibu. Diperlukan pemicu dan persetujuan untuk membuatnya menjadi alamiah. Seorang perempuan bisa saja berada dalam kondisi terpaksa atau sukarela saat melahirkan anaknya. Tanggung jawab baru ini begitu kompleks dan membutuhkan dedikasi tinggi sehingga dibutuhkan panduan untuk menjalaninya dan penerimaan. Namun, bahkan seorang ibu yang telah belajar mengibu dari nenek atau ibunya dan kerabat perempuan senior atau sesama ibu lain belum tentu bisa menjadi ibu sebagaimana yang diharapkan masyarakat. Yaitu, seorang manusia suci dengan kemurahan hati dan kesabaran tanpa batas. Moralitas semacam itu hanya ilusi. Sebab, bagaimanapun seorang ibu juga manusia.

Sebagai manusia, seorang ibu punya masalahnya dan batas-batasnya. Tekanan ekonomi serta kondisi keluarga dan lingkungan adalah sejumlah faktor yang membentuk karakter sekaligus memengaruhi perilaku dan kesadarannya, baik sebagai seorang manusia maupun ibu. Karena itulah, Multatuli merasa perlu mengeluarkan pernyataan, ”Tugas seorang manusia adalah menjadi manusia.” Multatuli menyadari, apa yang terlahir sebagai manusia belum tentu bisa menjadi manusia; dia bisa saja bersikap serupa binatang. Pun, seorang ibu.

Seorang ibu bisa saja seorang perempuan yang tidak bahagia, frustrasi, terluka, atau tertindas. Sementara menjadi ibu tidaklah sesederhana mengucapkan kata ”ibu.” Mengibu adalah sebentuk perjuangan fisik dan psikis yang memakan waktu nyaris seumur hidup dan tentu saja bukan sesuatu yang mudah dijalani. (*)

ANINDITA S. THAYF, Novelis dan esais

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 



Berita ini telah tayang di Situs JAWA POS