Bupati Terpilih Tuban Aditya Halindra Faridzky dengan Celana Pensilnya

oleh -19 views


Kursi bupati sebentar lagi dia duduki di usia 28 tahun dan masih lajang.

ZAKKI TAMAMI, Tuban, Jawa Pos

DARI tiga kali debat publik sampai ke baliho dan atribut pilkada lain, ada yang tak berubah darinya. Jaket varsity kuning dengan setrip hitam dan putih di lengan yang selalu dia kenakan.

Celananya pensil dan sepatu pantofel. Tata rambut ala oppa Korea.

Ciri khas sangat penting dalam sebuah hajatan seperti pemilihan umum kepala daerah (pilkada). Dari situ seorang calon melakukan positioning untuk menarik simpati para pemilik hak suara.

Dan, strategi Aditya Halindra Faridzky itu berhasil.

Berdasar hasil rekapitulasi penghitungan suara Selasa (15/12), Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Tuban menetapkan pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati Aditya Halindra Faridzky-Riyadi (DaDi) meraih suara terbanyak pada Pilkada Tuban 2020. Jumlah suaranya 423.236 (60,01 persen). Sementara itu, pasangan nomor urut 1 Khozanah Hidayati-M. Anwar meraih 170.955 suara (24,24 persen) dan paslon nomor urut 3 Setiajit-RM Armaya Mangkunegara mendapatkan 110.998 suara (15,74 persen).

Meski demikian, lembaga penyelenggara pemilu di Bumi Wali itu masih menunggu keputusan resmi Mahkamah Konstitusi untuk menetapkan pasangan nomor urut 2 tersebut sebagai pemenang pesta demokrasi itu.

Keputusan resmi yang dimaksud adalah Buku Registrasi Perkara Konstitusi. Jika sampai batas waktu yang ditentukan tidak ada gugatan atau pengajuan permohonan perselisihan atas hasil rekapitulasi suara pilkada Tuban, pasangan DaDi akan ditetapkan sebagai pemenang pilkada.

’’Saya ingin membuktikan bahwa usia muda tidak menjadi hambatan untuk meraih cita-cita. Anak muda mampu (bersaing di pilkada),’’ ungkap anak ketiga di antara empat bersaudara itu kepada Jawa Pos Radar Tuban melalui telepon.

Usianya memang masih muda sekali, 28 tahun. Hanya tiga tahun di atas batas minimal usia calon wali kota/bupati seperti diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, yaitu 25 tahun.

Pemuda kelahiran 15 April 1992 itu menjadi bagian dari sederet orang muda (berusia di bawah 35 tahun) yang berpartisipasi pada pilkada 2020 dan juga unggul dalam penghitungan suara sejauh ini. Hanindhito Himawan Pramana (28 tahun/Kabupaten Kediri), M. Nur Arifin (30, Kabupaten Trenggalek), dan Gibran Rakabuming Raka (33, Kota Solo) untuk menyebut sejumlah nama.

Keberhasilan yang diraih di usia semuda itu, plus daya tarik fisik, yang membuat nama Lindra ramai diperbincangkan. Beredar di berbagai platform, termasuk WhatsApp-WhatsApp group, gelombang penggemar baru atau dadakan. Barangkali, dialah Arya Saloka –si pemeran Aldebaran dalam sinetron Ikatan Cinta yang memicu banyak histeria– dunia politik saat ini.

Tapi, Lindra menjejak jagat politik tidak dengan tangan kosong. Dia memulainya dari Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) sebelum kemudian menjadi wakil ketua di DPD Partai Golkar Tuban. Mulai 2016 hingga sekarang, dia menjabat ketua DPD Partai Golkar di kabupaten yang terletak di pantai utara Jawa Timur bagian barat tersebut.

’’Saya terjun di dunia politik mulai usia 19 tahun,’’ tutur Lindra yang diusung Partai Golkar, Partai Demokrat, dan PKS.

Aditya Halindra Faridzky. (JAWA POS RADAR TUBAN)

Kiprahnya di politik mungkin memang baru seumur jagung. Tapi, politik sejatinya diakrabinya jauh sebelumnya.

Sang ibu, Haeny Relawati Rini Widyastuti, aktif berpolitik sejak era 1980-an. Mulai menjadi wakil ketua DPRD Tuban, ketua DPRD Tuban, hingga bupati Tuban periode 2001–2011.

Dia mengaku tak terbebani jejak panjang sang ibu. Malah itu yang turut mendorongnya maju dalam pilkada.

’’Hasil kepemimpinan ibu di pemerintahan Tuban sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Itu yang memacu saya untuk berbuat sama dengan beliau,’’ katanya.

Dan, sang ibu serta seluruh keluarga sangat mendukung keputusannya untuk maju dalam palagan politik. ’’Alhamdulillah, semua berjalan lancar (mulai pencalonan hingga sekarang),’’ ucap dia.

Lindra menyelesaikan pendidikan SD hingga SMP di Tuban. Setelah lulus SMPN 1 Tuban, dia melanjutkan pendidikan di SMA Taruna Nusantara Magelang.

Di sekolah tersebut, dia berkiprah dalam kepengurusan OSIS. Setelah lulus, Lindra melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) selama setahun. Setelah itu, dia meneruskan di Universitas Airlangga Surabaya. Selama kuliah, Lindra diberi amanah sebagai komisaris CV Sembilan-Sembilan, PT Sembilan-Sembilan Tuban Perdana, dan PT Ariesta Tuban hingga sekarang.

Tentang apa yang hendak diwujudkan saat kelak resmi memimpin Tuban, dia mengaku ingin mewujudkan pembangunan berimbang. ’’Memperhatikan kearifan lokal dan merata serta memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat,’’ katanya.

Yang belum diketahui jawabannya, tapi mungkin bakal sering ditanyakan kepadanya, siapa yang menjadi ketua tim penggerak PKK nanti. Alias, kapan mengakhiri masa lajang.

’’Tentang rencana menikah, belum ada. Jodoh terbaik saya percaya akan diberikan Allah SWT,’’ ujarnya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 



Berita ini telah tayang di Situs JAWA POS